Sekilas cerita – Setelah 22 tahun menghubungkan suara dan wajah dari berbagai penjuru dunia, Skype resmi menutup lembar perjalanannya pada 5 Mei 2025. Bukan sekadar aplikasi, Skype adalah jembatan—yang pernah menyatukan keluarga yang berjauhan, mempertemukan rekan kerja lintas zona waktu, hingga menjadi saksi bisu obrolan larut malam antara dua insan yang merindukan kehadiran.
Microsoft, sebagai pemilik Skype, kini mengarahkan langkah ke masa depan lewat platform barunya: Microsoft Teams. Di laman resmi Skype, tak lagi tampak tombol unduh yang dulu dinanti. Kini, yang tertinggal hanyalah ajakan untuk beranjak—ke layanan yang lebih modern, lebih terintegrasi, namun tanpa kenangan yang sama.
Teams memang menjanjikan banyak: komunikasi terpadu, kolaborasi profesional, dan konektivitas yang efisien. Tapi tak semua bisa menggantikan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Skype pernah menjadi pionir, pelopor revolusi komunikasi global. Sejak 2003, ia membuka kemungkinan baru: panggilan suara dan video lintas negara tanpa harus memikirkan pulsa dan tarif mahal.
Pada masanya, Skype adalah keajaiban digital. Di tengah keterbatasan, ia memberi ruang bagi jarak untuk menyusut dan bagi suara yang jauh untuk menjadi dekat. Ia adalah alat, tapi juga penghubung cerita—cerita para pelajar di negeri asing, pekerja migran yang ingin mendengar suara ibu, atau sahabat yang sekian lama tak bertemu namun tetap terhubung.
Microsoft memang memberi waktu hingga Januari 2026 bagi pengguna untuk mencadangkan kenangan mereka. Tapi kita tahu, yang paling berharga dari Skype bukan hanya datanya, melainkan pengalaman, memori, dan momen yang dibingkainya.
Walau aplikasi itu masih bisa ditemukan di toko digital, ia tak lagi bisa digunakan seperti dulu. Dunia telah bergerak maju. Dan seperti semua hal yang pernah besar, Skype pun pamit, dengan kepala tegak.
Dalam keheningan migrasi ke Teams, terselip satu kenyataan: setiap akhir bukan hanya penutupan, tapi juga pengingat. Bahwa teknologi adalah alat, tapi manusialah yang memberi makna. Dan Skype—sekalipun kini tiada—telah menjadi bagian dari jejak digital manusia yang ingin tetap terhubung, apa pun rintangannya.
Terima kasih, Skype. Untuk suara-suara yang kau pertemukan. Untuk wajah-wajah yang kau hadirkan. Untuk cerita-cerita yang tak akan pernah kami lupakan.

